Thursday, April 11, 2013

sinopsis novel let go

 
Sinopsis Novel  ' Let  Go ' 
 
Sinopsis           :
“Aku benci Dia!” itulah yang selalu ia katakan saat orang lain bertanya tentang ayahnya. Caraka Pamungkas, yang akrab dipanggil dengan nama Raka, sangat membenci ayahnya. Baginya, kepergian sosok sang ayah merupakan sesuatu yang tak termaafkan. Ayahnya berjanji akan menjaga dia dan ibunya, tetapi ternyata justru meninggalkannya. Ia tidak pernah bisa untuk berhenti membencinya, karena hanya dengan cara itulah ia bisa mengenang sang ayah.
            Beranjak sebagai seorang remaja yang lebih mengandalkan otot daripada otak, membuat Raka selalu mendapatkan masalah sejak awal ia bersekolah. Baru empat bulan duduk di bangku kelas X, ia sudah mendapat reputasi buruk dari sekolah. Terancam akan dikeluarkan dari sekolah, ia terpaksa untuk menerima anjuran Bu Ratna, wali kelas yang sangat peduli terhadapnya. Bergabung dalam kelompok majalah dinding sekolah, “Veritas”, bersama 3 murid lainnya yang awalnya tidak saling kenal.
            Caraka, yang suka sekali mencampuri urusan orang lain, mau tidak mau harus bekerja sama tiga orang dengan sifat yang sangat berbeda-beda. Nadya, ketua kelas yang cantik, pintar, serba bisa yang kadang kelewat mandiri sampai-sampai tidak mau dibantu oleh orang lain. Sarah, cewek pemalu yang tidak bisa menolak permintaan orang lain, membuat Raka selalu ingin membantunya. Sedangkan Nathan, cowok tampan kaya yang sangat cerdas, tetapi selalu bersikap sinis dan dingin sekali.
             Sifat Raka yang suka ikut campur, membuatnya terjebak dalam urusan teman-temannya. Pertama, hubungan Sarah dan Caraka. Kebaikan Raka ternyata disalahartikan oleh Sarah. Sarah menganggap Raka menyukainya. Kedua, hubungan Caraka dengan Nadya. Nadya yang selalu menolak bantuan orang lain, yang selalu mencoba untuk mandiri, membuat Raka tidak kuasa untuk membiarkannya. Raka selalu ingin melindunginya, menjadikannya lebih manusiawi. Ketiga, hubungan Nathan dan Raka. Nathan yang berusaha unuk menjaga jarak dengan orang lain, sangat kesal dengan sikap Raka yang suka ikut camur urusannya. Namun ternyata, sifat itulah yang justru membuat mereka semakin dekat dan membuat Raka menyadari bahwa Nathan telah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
            Diam-diam, Nathan ternyata harus hidup bersama tumor otaknya sejak satu tahun yang lalu. Sikapnya yang menjaga jarak dengan orang lain semata-mata karena ia tak ingin meninggalkan memori yang baik tentangnya. Ia tak ingin orang lain juga merasakan kesakitannya dan kelak ketika ia meninggal, Nathan tak ingin ada seorang pun yang menangisinya. Kematian ibunya, cukup membuat Nathan menyadari rasa sakit dari kehilangan.
             Hal ini tentu mengharuskan Caraka untuk memasuki kehidupan Nathan. Ia berusaha menyadarkan Nathan bahwa masih banyak hal yang layak untuk diperjuangkan. Awalnya, Nathan menolak dan menyuruh Raka untuk menjauh dari kehidupannya. Ia lebih memilih mati perlahan-lahan, tanpa penyesalan, tanpa terikat oleh siapapun. Namun, akhirnya Nathan tersadar bahwa kesempatan sekecil apapun harus dilakukan demi orang yang ia sayangi dan menyayanginya.
            Sekali lagi, Caraka harus berhadapan dengan sesuatu yang paling ditakutinya, yaitu “kehilangan”. Nathan meninggal satu tahun kemudian. Operasinya memang berhasil mengangkat tumornya. Namun karena sudah menyebar ke daerah vital, nyawanya tidak terselamatkan lagi. 
                     Bukti adanya nilai Religious pada novel ini
 :
1)      Ternyata, hidup adalah keajaiban itu sendiri. (hlm. 239)
Maksud : kita tak pernah sadar bahwa keajaiban itu justru yang sedang kita alami dan rasakan (hidup, anugrah terindah pemberian Tuhan YME)
2)      “… And in the end, the love we take is equal to the love we make.” (hlm. 242)
Maksud : segala kebaikan yang kita berikan, kelak kita pasti dibalas dengan harga yang setimpal oleh Tuhan YME
                   
Bukti adanya nilai moral pada novel ini :

1)      “Aku baca buku karena aku suka, bukan karena aku mengharap suatu penilaian dari orang-orang di sekitar aku. Bukan karena aku ingin dianggap hebat atau pintar atau berpendidikan atau beradab cuma karena udah baca sebuah karya sastra.” (hlm. 60) TIDAK SOMBONG
Maksud : tidak perlu mengharapkan penilaian dari orang lain dari tentang apa yang kita lakukan
2)      “… kadang-kadang, kata-kata yang kamu ucapkan emang nggak sesuai sama mukamu.” (hlm. 206) MEREMEHKAN
Maksud : perhatikan apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang menyampaikan
3)      “Kalau kamu emang orang yang selalu ingin menyenangkan hati orang lain, kenapa kamu nggak coba menyenangkan hati orang yang udah bantu kamu.” (hlm. 118) LUPA DIRI
Maksud : terkadang tanpa kita sadari, kita telah menyakiti orang yang telah menyenangkan hati kita
4)      “Karena kamu nggak sadar kalau kamu keren itulah kamu jadi sangat keren.” (hlm. 137) TIDAK SOMBONG
Maksud : orang yang hebat tak akan pernah menyadari kalau dirinya memang hebat

         
                Bukti adanya nilai sosial pada novel ini  :
 
1)      “Kalau ada kupu-kupu yang terperangkap di sarang laba-laba, orang cenderung akan menolong kupu-kupu itu walaupun mungkin si laba-laba belum makan selama berhari-hari,” jelas Nadya. “Tapi gimana kalau yang terperangkap adalah ulat yang belum jadi kupu-kupu? Orang tetap nolong nggak? Padahal, keduanya sama. Di dunia ini, memang harus cantik supaya ditolong.” (hlm.138) MEMILIH-MILIH TEMAN
Maksud : janganlah memilih siapa-siapa yang akan kita bantu, semua makhluk pada dasarnya sama
2)      “Ternyata, aku nggak sehebat yang kupikir,” katanya lirih. “Ternyata, aku lemah. Mengerjakan hal-hal sepele aja aku nggak bisa…. Bodoh banget kalau aku ingin mengerjakan hal-hal yang hebat. Bodoh banget kalau aku ingin diakui sebagai orang yang hebat.”
Caraka menghela napas,“Kamu nggak lemah,” katanya, lalu tersenyum. “Kamu cuma lupa meminta tolong.” (hlm. 83) MAKHLUK SOSIAL
Maksud : pada hakikatnya, manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain
3)      “Orang yang nggak bisa menghargai dirinya sendiri, nggak akan pernah bisa menghargai orang lain,” kata Nathan. (hlm. 98) MENGHARGAI
Maksud : bagaimana kita bisa menghargai orang lain kalau menghargai diri sendiri saja belum bisa
4)      “Manusia itu lebih berani menghadapi apa pun kalau melakukannya demi orang yang dia sayangi.” (hlm. 225)  RELA BERKORBAN
Maksud : manusia akan melakukan apapun demi orang yang disayang
 

Bukti adanya nilai Pendidikan pada novel ini :
 
1)      “..Dia yang harus membuat keputusan untuk dirinya, bukan Ibu, apalagi saya. Ini hidupnya. Jadi, tidak adil rasanya kalau orang lain yang memutuskan apa yang terbaik untuknya.” [hal. 145]
Maksud : kita sendiri yang tahu apa yang terbaik untuk kehidupan kita
2)      “Tapi…, karena nggak tahu apa-apa itulah, esok hari jadi sesuatu yang layak ditunggu-tunggu, kan?” (hlm. 112)
Maksud : hari kemarin adalah sejarah, hari ini adalah kenyataan, dan hari esok adalah sebuah misteri. Oleh karena itu, persiapkan masa depanmu sebaik mungkin.
3)      “Kesempatan sekecil apa pun yang memungkinkan aku bisa berkumpul lagi sama orang-orang yang aku cintai akan aku ambil, bahkan walaupun risikonya mati di meja operasi. Harapan sekecil apapun akan kuperjuangkan demi orang-orang yang aku cintai dan mencintaiku. (hlm. 232)
Maksud : kesempatan sekecil apapun, harus kita ambil karena tidak akan ada yang sia-sia di dunia ini
4)      “Orang yang baca banyak buku kayak kamu dan menguasai sejarah nggak mungkin bodoh. Kamu cuma sial karena hidup di tempat dan waktu yang salah. Tempat dan waktu ketika kamu dianggap bodoh kalau kamu nggak pintar dalam hal yang namanya sains.” (hlm. 162)
Maksud : tidak hanya yang serba bisa akan segala hal yang merupakan orang pintar, tetapi ahli dalam satu hal, juga termasuk orang yang pintar
 
                   Bukti adanya nilai Estetika pada novel ini :
 
1)      “Impian itu seperti sayap. Dia membawamu ke berbagai tempat. Kurasa, mamamu sadar akan hal itu. Dia tahu, kalau dia mencegah mimpimu, itu sama aja dengan memotong sayap burung. Burung tersebut memang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap sudah bukan burung lagi. Dan manusia tanpa mimpi, sudah bukan manusia lagi.” (hlm. 120)
Maksud: manusia yang tidak mempunyai mimpi dapat diibaratkan seperti burung tanpa sayap. Dia tidak bisa terbang ke tempat-tempat indah (impiannya) yang semestinya layak untuk dia lakukan
 
 
Ditunggu comment-nya ya..^_^
"zayn zay" 

No comments:

Post a Comment

Post a Comment